KONSEP,  ALIRAN,  DAN,  SEJARAH KOPERASI

 

 

KONSEP KOPERASI

                           Munkner dari University of Marbug, Jerman Barat membedakan konsep koperasi menjadi dua: konsep koperasi barat dan konsep koperasi sosialais. Hal ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa pada dasarnya, perkembangan konsep-konsep yg ada berasal dari negara-nrgara berpaham sosialis, sedangkan konsep yang berkembang di negara dunia ketiga merupakan  perpaduan dari kedua konsep tersebut.

KONSEP KOPERASI BARAT

                          Konsep Koperasi Barat menyatakan bahwa koperasi  merupakan organisasi swasta yang di bentuk secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai persamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta menciptakan keuntungan timbal balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi.

                         Jika dinyatakan secara negatif, maka koperasi dalam pengertian tersebut dapat dikatakan sebagai “ organisasi bagi egoisme kelompok “. Namun demikian, unsur egoistik ini diimbangi dengan unsur positif sebagai berikut.

  • Keinginan  Individu dapat di puaskan dengan cara bekerjasama antarsesama anggota, dengan saling membantu dan saling menguntungkan.
  • Setiap Individu dengan tujuan yang sama dapat berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan dan menanggung resiko bersama.
  • Hasil berupa Suplus/keuntungan didistribusikan kepada anggota sesuai dengan metode yang telah disepakati.
  • Keuntungan yang belum didistribusikan akan dimasukkan sebagai cadangan koperasi.

 

Dampak Langsung Koperasi terhadap anggotanya adalah:

  • Promosi kegiatan ekonomi anggota.
  • Pengembangan Usaha perusahaan koperasi dalam hal investasi, formasi permodalan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengembangan keahlian untuk bertindak sebagai wirausahawan, dan kerjasama antarkoperasi secara harizontal dan vertikal.

 

Dampak tidak langsung koperasi terhadap anggota hanya dapat dicapai, bila dampak langsungnya sudah diraih. Dampak koperasi secara tidak langsung adalah sebagai berikut.

  • Pengembangan kondisi sosial ekonomi sejumlah produsen skala kecil maupun pelanggan.
  • Mengembangkan inovasi pada perusahaan skala kecil, misalnya inovasi teknik dan metodeproduksi.
  • Mengembangkan distribusi pendapatan yang lebih seimbang dengan pemberian harga yang wajar antara produsen dengan pelanggan, serta pemberian kesempatan yang sama pada koperasi dan perusahaan kecil.

 

KONSEP KOPERASI SOSIALIS

                 Konsep Koperasi Sosialis menyatakan  bahwa koperasi direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah, dan dibentuk dengan tujuan merasionalkan produksi, untuk menunjang perencanaan nasional. Sebagai alat pelaksana dari perencanaan yang ditetapkan secara sentral, maka koperasi merupakan bagian dari suatu tata administrasi yang menyeluruh, berfungsi sebagai badan yang turut menentukan kebijakan publik, serta merupakan badan pengawasan dan pendidikan.

KONSEP KOPERASI NEGARA BERKEMBANG

                  Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, munkner hanya membedakan koperasi berdasar konsep barat dan konsep sosialais. Sementara itu di dunia ketiga, walaupun masih mengacu kepada kedua konsep tersebut, namun koperasinya sudah berkembang dengan ciri tersendiri, yaitu dominasi campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangannya.  Pengembangan koperasi di negara berkembang seperti di indonesia dengan top down approach pada awal pembangunannya dapat diterima, sepanjang polanya selalu disesuaikan dengan perkembangan pembangunan di negara tersebut. Dengan kata lain, penerapan pola top down harus di ubah secara bertahap menjadi bottom up approach.  Adanyba campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan koperasi di indonesia membuatnya mirip dengan konsep sosialis. Perbedaannya adalah, tujuan koperasi dalam konsep sosialis adalah untuk merasionalkan faktor produksi dari kepemilikan pribadi ke pemilikan kolektif, sedangkan koperasi di negara berkembang seperti di indonesia, tujuannya adalah meningkatkan kondisi ekonomi anggotanya.

 

LATAR BELAKANG TIMBULNYA ALIRAN KOPERASI

               

                  Secara garis besar, ideologi negara-negara  di dunia ini dapat di kelompokan menjadi 3:

  • Liberalisme/ kapitalisme
  • Sosialisme
  • Tidak termasuk Liberalisme maupun sosialisme

            Implementasi dari masing-masing ideologi ini melahirkan sistem perekonomian yang berbeda-beda. Pada gilirannya, suatu sistem perekonomian tertentu akan saling menjiwai dengan koperasi sebagai subsistemnya. Misalnya, Ideologi Pancasila dan sistem perekonom ian yang termaktub dalam pasal 33 UUD 1945 akan mewarnai peran dan misi koperasi indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, aliran koperasi dalam suatu negar tidak dapat dipisahkan dari sistem perekonomian yang dianut oleh negara yang bersangkutan.

 

 

 

 

 

ALIRAN KOPERASI

              Dengan mengacu pada keterkaitan ideologi dan sistem perekonomian di suatu negara, maka secara umum aliran koperasi yang dianut oleh pelbagai negara di dunia dapat dikelompokkan berdasarkan peran gerakan koperasi dalam sistem perekonomian dan hubungannya dengan pemerintah. Paul Hubert Casselman membaginnya menjadi 3 aliran

  • Aliran Yardstick
  • Aliran Sosialis
  • Aliran Persemakmuran (Commonwealth)

ALIRAN YARDSTICK

               Aliran ini pada umumnya dijumpai pada negara-negara yang berideologi kapitalis atau yang menganut sistem perekonomian liberial. Menurut Aliran ini, koperasi dapat menjadi kekuatan untuk mengimbangi, menetralisasikan, dan mengoreksi berbagai keburukan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme. Hubungan pemerintah dengan gerakan koperasi bersifat netral. Hal ini berarti, pemerintah tidak melakukan campur tangan terhadap jatuh bangunnya koperasi di tengah-tengah masyarakat. Pengaruh aliran ini cukup kuat, terutama di negara-negara barat. Dimana industri berkembang dengan pesat di bawah sistem  kapitalisme, seperti Amerika Serikat, Perancis, Swedia, Denmark, Jerman, Belanda, dan lain-lain.

ALIRAN SOSIAL

             Lahirnya aliran ini tidak terlepas dari berbagai keburukan yang ditimbulkan oleh kapitalisme. Menurut Aliran ini, koperasi di pandang sebagai alat yang paling efektif untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, di samping itu menyatukan rakyat lebih mudah melalui organisasi koperasi. Akan tetapi dalam perkembangannya, kaum sosialis kurang berhasil memanfaatkan koperasi bagi kepentingan mereka.  Pengaruh aliran ini banyak dijumpai di negara-negara Eropa Timur dan Rusia.

ALIRAN PERSEMAKMURAN

             Aliran pesemakmuran (commonwealth) memandang koperasi sebagai alat yang efesien dan efektif dalam meningkatkan kualitas koperasi sebagai alat yang efektif dan efisien dalam meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat. Koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat berkedudukan strategis dan memegang peranan utama dalam struktur perekonomian masyarakat.

           Hubungan pemerintah dengan gerakan koperasi bersifat kemitraan (partnership), dimana pemerintah bertanggung jawab dan berupaya agar iklim pertumbuhan koperasi tercipta dengan baik. Dalam tulisannya di harian kompas yang berjudul “Kemakmuran Masyarakat Berasaskan Koperasi”, E.D. Damanik membagai koperasi menjadi 4 aliran atau schools of cooperatives berdasarkan peranan dan fungsinya dalam konstelasi perekonomian negara, yakni:

  • Cooperative Commonwealth School
  • School of Modified Capitalisme atau juga disebut school of Competitive
  • Yardstick
  • The socialist school
  • Coperative sector school

 

COOPERATIVE COMMONWEALTH SCHOOL

                 Aliran ini merupakan cerminan sikap yang menginginkan dan memperjuangkan agar prinsip-prinsip koperasi di berlakukan pada bagian luas kegiatan manusia dan lembaga, sehingga koperasi  memberi pengaruh dan kekuatan yang dominan di tengah masyarakat.

SCHOOL OF MODIFIED CAPITALISME (SCHOOL OF COMPETITIVE YARDSTICK)

                  Suatu paham yang menganggap koperasi sebagai suatu bentuk kapitalisme, namun memiliki suatu perangkat peraturan yang menuju pada pengurangan dampak negatif dari kapitalis. Disini koperasi harus mampu bersaing di pasar.

THE SOCIALIST SCHOOL

                 Suatu paham yang menganggap koperasi sebagi bagian dari sistem sosialis.

COOPERATIVE SECTOR SCHOOL

                  Paham yang menganggap filsafat koperasi sebagai sesuatu yang berbeda dari kapitalisme maupun sosialisme, dan karenanya berada di anatara kapitalis dengan sosialis.

SEJARAH PERKEMBANGAN KOPERASI

             SEJARAH LAHIRNYA KOPERASI

                             Koperasi Modern yang berkembang dewasa ini lahir pertama kali di inggris, yaitu di kota Rochdale pada tahun 1844. Pada awalnya, koperasi Rochadle berdiri dengan usaha penyediaan barang-barang konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi seiring dengan terjadinya pemupukan modal koperasi, koperasi mulai merintis untuk memproduksi sendiri barang yang akan dijual. Kegiatan ini menimbulkan kesempatan kerja bagi anggota yang belum bekerja dan menambah pendapatan bagi mereka yang sudah bekerja.

                                Perkembangan Koperasi di Rochdale sangat mempengaruhi perkembangan gerakan koperasi di inggris maupun di luar inggris. Pada tahun 1852, jumlah koperasi di inggris sudah mencapai 100 unit. Pada tahun 1862, di bentuklah pusat koperasi pembelian dengan nama The Cooperative Whole Sale Society (CWS). Pada tahun 1945, CWS berhasil mempunyai lebih kurang 200 pabrik dengan 9000 orang pekerja. Melihat perkembangan usaha koperasi baik di sektor produksi maupun di sektor perdagangan, pimpinan CWS kemudian membuka perwakilan-perwakilan di luar negeri seperti di New York, Kopenhagen, Hambrug, dan lain-lain.

                               The Women’s Cooperative Guild yang di bentuk pada tahun 1883, besar pengaruhnya terhadap perkembangan gerakan koperasi, di samping memperjuangkan hak-hak kaum wanita sebagai ibu rumah tangga, warga negara, dan sebagai konsumen. Revolusi industri di perancis juga mendorong berdirinya kopearsi. Untuk mampu menghadapi serangan industri inggris. Charles Fourier (1772-1837) menyusun suatu gagasan untuk memperbaiki hidup masyarakat dengan membentuk fakanteres, suatu perkumpulan yang terdiri dari 300 sampai 400 keluarga yang bersifat komunal.

                                Louis Blanc (1881-1880) dalam bukunya Organization labour menyusun gagasannya lebih konkrit, dengan mengatakan bahwa persaingan merupakan sumber keburukan ekonomi, kemiskinan, kemerosotan moral, kejahatan, krisis industri, dan pertentangan nasional. Pada tahun 1884, kaum buruh perancis menuntut pemerintah untuk melaksanakan gagasan Louis Blanc untuk mendirikan koperasi, tetapi koperasi ini kemudian bangkrut. Di samping negara-negara tersebut, koperasi juga berkembang di Jerman yang di pelopori Ferdinan Lasalle, Friedrich W. Raiffesen (1818-1888), dan Herman Schulze (1808-1883) di Denmark dan sebagainya.

                                   Dalam perjalanan sejarah, koperasi tumbuh dan berkembang ke seluruh dunia di samping badan usaha lainnya. Setengah abad setelah pendirian koperasi Rochdale, seiring dengan berkembangnya koperasi di berbagai Negara, para pelopor koperasi sepakat untuk membentuk International Cooperative Alliance (ICA-Persekutuan Koperasi Internasional ) dalam kongres Koperasi Internasional yang pertama pada tahun 1896 di London. Dengan di bentuknya ICA, maka koperasi telah menjadi suatu gerakan internasional.

 

SEJARAH PERKEMBANGAN KOPERASI DI INDONESIA

                      Menurut Sukoco ndalam bukunya “Seratus Tahun Koperasi di Indonesia di indonesia”, badan hukum koperasi pertama di indonesia adalah sebuah ko-perasi di leuwiliang, yang di dirikan pada tanggal 16 desember 1895. Pada hari itu, Raden Ariwiriaatmadja, Patih Purwokerto, bersama kawan-kawan, telah mendirikan Bank simpan-pinjam untuk menolong sejawatannya para pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari cengkraman pelepas uang, yang di kala itu merajalela. Bank  simpan-pinjam tersebut, semacam Bank tabungan jika di pakai istilah UU NO. 14 tahun 1967 tentang pokok-pokok perbankan, di beri nama “De Poerwokertosche Hulp-en spaarbank de Inlandseche Hoofden. Dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih sama dengan Bank simpan pinjam para “priyayi” Purwokerto.

                        Dalam bahasa inggris sama dengan “the purwokerto mutual Loan and Savings Bank  for native civil servants”. Para pegawai pemerintah kolonial belanda biasa disebut priyayi, sehungga banknya disebut sebagai “Bank Priyayi”. Perlulah di ingat bahwa Indonesia baru mengenal perundang-undangan koperasi pada tahun 1915, yaitu dengan di terbitkannya “Vordening op de Cooperative Vereninging”, jadi karena perundang-undangan koperasi baru pada tahun 1915, maka pada tahun 1895 badan hukum koperasi belum dikenal di indonesia. Pada tahun 1920, diadakan Cooperative Commissie yang diketuai oleh Dr.JH.Boeke sebagai Adviseur voor Volks-credietwezen. Komisi ini diberi tugas untuk menyelidiki, apakah koperasi bermanfaat di Indonesia. Hasilnya di serahkan pada pemerintah pada bulan september 1921, dengan kesimpulan bahwa koperasi dibutuhkan untuk memperbaiki perekonomian rakyat.

                             Pada tanggal 12 juli 1947, diselenggarakan kongres gerakan koperasi se-Jawa yang pertama di Tasikmalaya. Dalam kongres tersebut di putuskan terbentuknya sentral Organisasi koperasi rakyat indonesia yang disingkat SOKRI, menjadikan tanggal 12 juli sebagai hari koperasi, serta menganjurkan diadakannya pendidikan koperasi di kalangan pengurus, pegawai dan masyarakat.  Pada tahun 1965, pemerintah mengeluarkan undang-undang no. 14 tahun 1965, dimana prinsip NASKOM diterapkan pada koperasi, kemudian pada tahun 1967, pemerintah mengeluarkan undang-undang no.12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian yang mulai berlaku tanggal 18 Desember 1967.

 

 

PENGERTIAN DAN PRINSIP-PRINSIP KOPERASI

 

KOPERASI, GOTONG ROYONG , DAN TOLONG-MENOLONG                         

                       Koperasi mengandung makna “kerja sama. Koperasi bersumber dari kata co-operation yang artinya “kerja sama”. Arti kerja sama bisa berbeda-beda, tergantung dari cabang ilmunya.

  • Ilmu ekonomi terapan. Bentuk “kerja sama” dalam ekonomi yang diatur sedemikian rupa, sehingga dapat membantu peserta kerja sama tersebut.
  • Ilmu sosial. “Kerja sama’ adalah suatu organisasi yang merupakan salah satu unsur dinamika kehidupan bermasyarakat.
  • Aspek hukum. “kerja sama” adalah suatu badan hukum yang mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
  • Pandangan anthropologi. “kerja sama” adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan untuk memelihara kelangsungan hidup suatu masyarakat.

            Koperasi berkaitan dengan fungsi-fungsi sebagai berikut :

      

  • Fungsi sosial, yaitu cara manusia hidup, bekerja, dan bermain dalam masyarakt.
  • Fungsi Ekonomi, yaitu cara manusia membiayai kelangsungan hidupnya dengan bekerja dalam masyarakat.
  • Fungsi politik, yaitu cara manusia memerintah dan mengatur diri mereka sendiri melalui berbagai hukum dan peraturan.
  • Fungsi Etika, yaitu cara manusia berperilaku dan meyakini kepercayaan mereka, falsafah hidup mereka, dan cara berhubungan dengan Tuhan mereka.

Di Indonesia bentuk kerjasama sudah lama dikenal dengan istilah “gotong royong”. Koperasi gotong royong dan tolong menolong sama-sama  mengandung unsur dasar kerjasama.

PENGERTIAN KOPERASI

                           Seringkali orang mendefinisikan koperasi dengan menggunakan prinsip-prinsip koperasi atau serangkaian prinsip koperasi, terutama prinsip-prinsip koperasi yang diterapkan oleh pelopor dari Roch dale, Raiffesien, Schulze. Prinsip-prinsip  koperasi dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk yang berguna bagi pengembangan organisasi koperasi dan gerakan koperasi tertentu. prinsip-prinsip tersebut biasanya bukan merupakan kriteria yang berguna bagi pembuatan defenisi Ilmiah mengenai organisasi koperasi yang berlaku secara universal.

                           Biasanya koperasi dikaitkan dengan upaya kelompok-kelompok individu, yang bermaksud mewujudkan tujuan-tujuan umum atau sasaran-sasaran konkritnya melalui kegiatan-kegiatan ekonomis, yang dilaksanakan secara bersama bagi kemanfaatan bersama. Kata koperasi berasal dari bahasa Latin “Coopere” ysng dalam bahasa inggris disebut Cooperation. Co berarti bersama dan operation  berarti bekerja, jadi Cooperation berarti bekerja sama.  Terminologi koperasi yang mempunyai arti “kerja sama” atau paling tidak mengandung makna kerja sama. Berikut ini disajikan beberapa definisi koperasi.

DEFENISI ILO

                  Defenisi koperasi yang lebih detail dan berdampak internasional diberikan oleh ILO (Internasional Labour Organization ) sebagai berikut.

Cooperative defined as an assocation of persons usually of limitied means, who have voluntarily joined together to achieve a common economic end through the formation of a democratically controlled businies organization, making equitable contribution to the capital required and accepting a fair share of the risk and benefits of the undertaking.

                 

DEFENISI CHANIAGO

                 Arifinal Chaniago 1984 mendefinisikan koperasi sebagai suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum, yang memberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya.

DEFENISI DOOREN

               P.J.V Dooren mengatakan bahwa, tidak ada satupun defenisi koperasi yang diterima secara umum. Kendati demikian, Dooren masih tetap memberikan defenisi koperasi sebagai berikut. There is no single definition which is generally vaccpted, but the common principle is that a cooperation union is an association of member , either personal or corporate, which have voluntarily come together in pursuit of a common economic objective.

DEFENISI HATTA

                Koerasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong menolong. Semangat tolong menolong tersebut di dorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan.

DEFINISI MUNKNER

               Munkner mendefinisikan koperasi sebagai organisasi tolong-menolong yang menjalankan “urusniaga” secara kumpulan,  ysng berazaskan konsep-konsep tolong menolong. Aktivitas dalam ursniaga semata-mata bertujuan ekonomi, bukan sosial seperti yang dikandung gotong royong.

 

TUJUAN KOPERASI

                  Dalam UU No.25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 3 disebutkan bahwa, koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut  membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan pancasila dan undang-undang dasar 1945. Tujuan koperasi tersebut masih bersifat umum, karena itu setiap koperasi perlu menjabarkannya ke dalam bentuk tujuan yang lebih operasional bagi koperasi sebagai badan usaha. Dalam tujuan tersebut dikatakan bahwa, koperasi memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pernyataan ini mengandung arti bahwa, meningkatkan kesejahteraan anggota adalah menjadi program utama koperasi melalui pelayanan usaha.  Dengan demikian keberhasilan koperasi dalam mencapai tujuannya dapat di ukur dari peningkatan kesejahteraan anggota.

                  Keberhasilan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi anggotanya akan lebih mudah di ukur, apabila pendapatan riil seseorang atau masyarakat tersebut meningkat pula. Berkaitan dengan jalan pikiran tersebut, maka apabila tujuan koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan anggotanya,  maka berarti pula tujuan koperasi itu diwujudkan dalam bentuk meningkatnya pendapatan para anggotanya.

PRINSIP-PRINSIP KOPERASI

                           Prinsip-prinsip koperasi adalah ketentuan –ketentuan pokok yg berlaku dalam koperasi dan dijadikan sebagai pedoman kerja koperasi.  7 prinsip koperasi yang paling sering dikutip

  • Prinsip Munkner
  • Prinsip Rochdale
  • Prinsip Raiffesien
  • Prinsip Herman Schulze
  • Prinsip ICA  (internasional Cooperative Allience)
  • Prinsip koperasi indonesia versi UU No.12 tahun 1967, dan
  • Prinsip koperasi Indonesia versi UU No.25 tahun 1992

 

PRINSIP MUNKNER    

                  Menurut prinsip-prinsip koperasi adalah prinsip –prinsip ilmu pengetahuan sosial yang dirumuskan dari pengalaman dan merupakan petunjuk utama dalam mengerjakan sesuatu

PRINSIP ROCHDALE

                Prinsip-prinsip Rochdale pada awalnya dipelopori oleh 28 koperasi konsumsi di Rochdale, inggris pada tahun 1944. Prinsip Rochdale ini menjadi acuan atau tujuan dasar bagi berbagai koperasi. Adapun unsur-unsur prinsip rochdale ini menurut bentuk aslinya adalah sebagai berikut:

  • Pengawasan secara demokratis (democratic control)
  • Keanggotaan yang terbuka (open membership)
  • Bunga atas modal dibatasi (a fixed or limitied interest on capitial)
  • Pembagian sisa hasil usaha (SHU) kepada anggota sebanding dengan jasa masing-masing anggota
  • Penjualan sepenuhnya dengan tunai traiding strictyli on a cash basis)
  • Barang-barang yang dijual harus asli dan tidak yang diplsukan
  • Menyelenggarakan pendidikan kepada anggota dengan prinsip-prinsip koperasi
  • Netral terhadap politik dan agama

 

PRINSIP RAIFFEISEN

                Prinsip Raifisien adalah sebagai berikut:

  • Swadaya
  • Daerah kerja terbatas
  • SHU untuk cadangan
  • Tanggung jawab anggota tidak terbatas
  • Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
  • Usaha  hanya kepada anggota
  • Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang

 

INSIP SCHUZLEPR

Prinsip Herman Schulze adalah sebagai berikut

  • Swadaya
  • Daerah kerja tak terbatas
  • SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan kepada anggota
  • Tanggung jawab anggota terbatas
  • Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
  • Usaha tidak terbatas tidak hanya untuk anggota

PRINSIP-PRINSIP KOPERASI INDONESIA

                Prinsip-prinsip atau sendi-sendi  dasar koperasi menurut UU No.12 tahun 1967, adalah sebagai berikut

  • Sifat keanggotaanya sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara indonesia
  • Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai  pencerminan demokrasi dalam koperasi
  • Pembagian SHU diatur menurut jasa masing-masing anggota
  • Adanya pembatasan bunga atas modal
  • Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya
  • Usaha dan ketatalaksanaanya bersifat terbuka
  • Swadaya, Swakarta, dan swasembada sebagai pencerminan prinsip dasar percaya pada diri sendiri

 

 

 

 

Sumber Referensi :  ARIFIN SITIO, HALOMOAN TAMBA

KOPERASI TEORI DAN PRAKTIK

          …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s