SISA HASIL USAHA KOPERASI

A. Pengertian dan Cara Menghitung Sisa Hasil Usaha Koperasi

Sisa Hasil Usaha ( SHU ) Koperasi seringkali diartikan keliru oleh pengelola koperasi. SHU Koperasi dianggap sama saja dengan deviden sebuah PT, padahal terminology SHU jelas, bahwa SHU adalah “Sisa” dari Usaha koperasi yang diperoleh setelah kebutuhan anggota terpenuhi. Dalam Manajemen koperasi Sisa hasil usaha (SHU) memang diartikan sebagai selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total (total revenue [TR]) dengan biaya-biaya atau biaya total (total cost[TC]) dalam satu tahun buku. Bahkan dalam jika ditinjau pengertian SHU dari aspek legalistik, menurut UU No.25/1992, tentang perkoperasian, Bab IX, pasal 45 adalah sebagai berikut:

1. SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

2. SHU setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

3. besarnya pemupukan modal dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.
Pengertian diatas harus dipahami bahwa SHU bukan deviden seperti PT tetapi keuntungan usaha yang dibagi sesuai dengan aktifitas ekonomi angoota koperasi, maka besarnya SHU yang diterima oleh setiap anggota akan berbeda, tergantung besarnya partisipasi modal dan transaksi anggota terhadap pembentukan pendapatan koperasi. Artinya, semakin besar transaksi(usaha dan modal) anggota dengan koperasinya, maka semakin besar SHU yang akan diterima. Hal ini berbeda dengan perusahaan swasta, dimana dividen yang diperoleh pemilik saham adalah proporsional, sesuai besarnya modal yang dimiliki. Hal ini merupakan salah satu pembeda koperasi dengan badan usaha lainnya.
Penghitungan SHU bagian anggota dapat dilakukan apabila beberapa informasi dasar diketahui sebagai berikut:
a. SHU total kopersi pada satu tahun buku
b. Bagian (persentase) SHU anggota
c. Total simpanan seluruh anggota
d. Total seluruh transaksi usaha ( volume usaha atau omzet) yang bersumber dari anggota
e. Jumlah simpanan per anggota
f. Omset atau volume usaha per anggota
g. Bagian (persentase) SHU untuk simpanan anggota
h. Bagian (persentase) SHU untuk transaksi usaha anggota.

Contoh Perhitungan SHU Koperasi
Sesuai dengan perundang undangan kopesi indonesi pembagian SHU KOPERASI “biasanya” dibagi atas bagian-bagian yang telah disebutkan sebelumnya. Dikatakan “biasanya” karena pembagian SHU KOPERASI tetap harus sesuai dengan keputusan anggota di RAT yang dituangkan dalam AD/ART.
Pembagian yang “ideal” dan biasa dipakai pada koperasi di Indonesia adalah sebagai berikut:
Cadangan : 40 %
SHU KOPERASI Dibagi pada anggota : 40 %
Dana pengurus : 5 %
Dana karyawan : 5 %
Dana Pembangunan Daerah kerja / Pendidikan : 5 %
Dana sosial : 5 %
Persentase penghitungan SHU KOPERASI pun ditentukan pada RAT dan harus dituangkan dalam AD/ART koperasi. Jika anggota menginginkan SHU KOPERASI dibagikan seluruhnyapun tetap boleh, tapi tentu hal ini tidak dianjurkan karena keberadaan dana cadangan dll juga sangat penting untuk keberlangsungan koperasi.
Secara matematik rumusan penghitungan SHU KOPERASI adalah sebagai berikut:
SHU KOPERASI = Y+ X
Dimana:
SHU KOPERASI : Sisa Hasil Usaha per Anggota
Y : SHU KOPERASI yang dibagi atas Aktivitas Ekonomi
X: SHU KOPERASI yang dibagi atas Modal Usaha
Dengan menggunakan model matematika, SHU KOPERASI per anggota dapat dihitung
sebagai berikut.
SHU KOPERASI= Y+ X
Dengan
SHU KOPERASIAE = Ta/Tk(Y)
SHU KOPERASIMU = Sa/Sk(X)
Dimana.
SHU KOPERASI: Total Sisa Hasil Usaha per Anggota
SHU KOPERASIAE : SHU KOPERASI Aktivitas Ekonomi
SHU KOPERASIMU : SHU KOPERASI Anggota atas Modal Usaha
Y : Jasa Usaha Anggota
X: Jasa Modal Anggota
Ta: Total transaksi Anggota)
Tk : Total transaksi Koperasi
Sa : Jumlah Simpanan Anggota
Sk : Simpana anggota total

Contoh:
SHU KOPERASI Koperasi A setelah Pajak adalah Rp. 1.000.000,-
Jika dibagi sesuai prosentase Pembagian SHU KOPERASI koperasi seperti contoh yang disampaiakan sebelumnya maka diperoleh:
Cadangan : 40 % = 40% x Rp.1.000.000,- = Rp. 400.000,-
SHU KOPERASI Dibagi pada anggota : 40 % = 40% x Rp.1.000.000,- = Rp. 400.000,-
Dana pengurus : 5 % = 5% x Rp.1.000.000,- = Rp. 50.000,-
Dana karyawan : 5 % = 5% x Rp.1.000.000,- = Rp. 50.000,-
Dana Pembangunan Daerah kerja / Pendidikan : 5 %= 5% x Rp.1.000.000,- = Rp. 50.000,-
Dana sosial : 5 % = 5% x Rp.1.000.000,- = Rp. 50.000,-
Yang bisa dibagi kepada anggota adalah SHU KOPERASI Dibagi pada anggota : 40 %
Atau dalam contoh diatas senilai Rp.400.000,-
Maka Langkah-langkah pembagian SHU KOPERASI adalah sebagai berikut:
1) Di RAT ditentukan berapa persentasi SHU KOPERASI yang dibagikan untuk aktivitas ekonomi (transaksi anggota) dan berapa prosentase untuk SHU KOPERASI modal usaha (simpanan anggota) prosentase ini tidak dimasukan kedalam AD/ART karena perbandingan antara keduanya sangat mudah berubah tergantung posisi keuangan dan dominasi pengaruh atas usaha koperasi, maka harus diputuskan setiap tahun . Biasanya prosentase SHU KOPERASI yang dibagi atas Aktivitas Ekonomi ( Y) adalah 70% dan prosentase SHU KOPERASI yang dibagi atas Modal Usaha adalah 30%. Jika demikian maka sesuai contoh diatas
Y = 70% x Rp.400.000,-
= Rp. 280.000,-
X= 30% x Rp.400.000,-
= Rp. 120.000,-
2) Hitung Total transaksi tiap anggota, total simpanan tiap anggota dan total transaksi seluruh anggota serta total simpanan seluruh anggota. Sebagi contoh kita akan menghitung SHU KOPERASI Gusbud. Dari data transaksi anggota diketahui Gusbud bertransaksi sebesar Rp. 10.000,- dengan simpanan Rp. 5000,- sedangakan total transaksi seluruh anggota adalah Rp.10.000.000,- dengan total simpanan anggota adalah Rp.2.000.000,-
Maka
SHU KOPERASIAE Gusbud = Rp. 10.000,-/ Rp.10.000.000,-( Rp. 280.000,-)
= Rp. 280,-
SHU KOPERASIMU Gusbud = Rp. 5000,- / Rp.2.000.000,- (Rp. 120.000,-)
= Rp.300,-
Contoh diatas diasumsikan bahwa 100% transaksi yang masuk ke koperasi adalah transaksi dengan anggota, padahal dalam kenyataanya pasti ada transaksi dengan non anggota.

 

 

Perumusan :

SHU = JUA + JMA, dimana

SHU = Va/Vuk . JUA + Sa/Tms . JMA

Dengan keterangan sebagai berikut :

SHU : sisa hasil usaha

JUA : jasa usaha anggota

JMA : jasa modal sendiri

Tms : total modal sendiri

Va : volume anggota

Vak : volume usaha total kepuasan

Sa : jumlah simpanan anggota

 

 

KOPERASI DALAM BERBAGAI STRUKTUR PASAR

 

Pasar mencangkup pembeli dan penjual yang actual dan potensial pada produk/jasa tertentu (Doinick Salvator, 1996). Pasar juga diartikan sebagai sebuah institusi atau badan yang menjalankan aktivitas jual beli barang-barang dan / jasa ataupun produk tertentu. Pasar tidak selalu harus merupakan tempat atau bangunan tertentu melainkan setiap hubungan yang terjadi antara pembeli dan penjual pada suatu produk tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam era informasi, pasar terus berkembang dalm bentuk perdagangan elektronik, yang lebih dikenal dengan istilah e-commerce.

Berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu : pasar dengan persaingan sempurna (perfect competitive market), dan pasar dengan persaingan tak sempurna (imperfect competitive market). Yang termasuk golongan pasar tak sempurna adalah :

  • Monopoli
  • Persaingan monopolistic
  • Oligopoly

Setiap pelaku bisnis harus terlebih dahulu mengenali struktur pasar yang akan dimasuki sebelum melakukan perluasan usaha. Disadari bahwa dalam pasar global kondisi persaingannya sangat keras.

KOPERASI DALAM PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

 

Persaingan sempurna adalah struktur pasar yang paling banyak digunakan oleh para ahli ekonomi sebagai dasar analisis danperencanaan suatu perekonomian. Agar lebih mudah mengenali bentuk pasar persaingan sempurna tersebut, berikut ini disarika cirri-cirinya :

  • Penjual dan pembeli suatu produk sangat banyak, sehingga masing-masing pihak tidak dapat mempengaruhi harga. Harga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran dipasar. Dengan demikian pengusahalah yang menyesuaikan usahanya dengan harga pasar yang telah ada. Demikian pula konsumen secara perorangan tidak dapat mempengaruhi harga pasar dengan jalan memperbesar atau memperkecil jumlah pembeliannya.
  • Produk yang diperjual belikan bersifat homogen, yaitu semua produk yang ditawarkan sama dalam segala hal. Akibatnya penentuan pembelian oleh konsumen tidak tergantung kepada siapa yang menjual produk tersebut.
  • Masing-masing penjual ataupun pembeli mempunyai kebebasan untuk keluar atau masuk ke dalam pasar. Tidak ikutnya salah satu pengusaha atau pembeli dalam pasar tersebut tidak akan berpengaruh kepada harga pasar, karena jumlah produk yang ditarik/dibeli sedemikian kecilnya sehingga dapat diabaikan jika dibandingkan dengan total produk yang terdapat di pasar.
  • Pelaku ekonomi mempunyai pengetahuan dan informasi yang sempurna dari kondisi pasar, struktur harga, dan kualitas barang.

 

Adapun ciri-ciri pasar persaingan sempurna adalah sebagai berikut :

o   Adanya penjual dan pembeli yang sangat banyak.

Jumlah yang besar adalah menandakan struktur dasarnya. Asumsi adanya banyak perusahaan tidak berarti jumlahnya ditentukan. Tetapi di sana harus ada cukup perusahaan sehingga masing-masing perusahaan, seberapapun besarnya hanya menyediakan sebagian kecil dari total kuantitas yang ditawarkan di pasar.

o   Produk yang dijual perusahaan adalah sejenis homogen

Hasil produksi dari suatu perusahaan akan dianggap sama oleh pembeli sebagaimana seperti yang dihasilkan oleh perusahaan lain. Asumsi homogenitas produk tadi mempunyai beberapa kesimulan penting yaitu :

§  Disini perusahaan-perusahaan tidak terpacu untuk terikat dalam persaingan nonharga (misalnya melalui periklanan dan tipe lain dari promosi penjualan). Karena produk yang dihasilkan adalah sejenis/identik dan para pembeli mengetahuinya, persaingan nonharga akan menghasilkan suatu perusahaan yang tidak mempunyai kelebihan pasar.

§  Kesimpulan dari asumsi-asumsi mengenai para penjual dalam jumlah yang besar dan homogenitas produk adalah bahwa perusahaan individu tidak dapat mempengaruhi harga

o   Perusahaan bebas untuk maasuk dan keluar

Tidak ada hambatan bagi perusahaan dan sumberdaya yang mereka gunakan (seperti keuangan yang sah, teknologi dan lainnya) untuk masuk atau keluar dari pasar. Karakteristik ini adalah bagian dari struktur pasar.

Asumsi ini dapat menjamin keefisienan kinerja bagi perusahaan-perusahaan dalam persaingan pasar bebas.

Asumsi bebas masuk dan keluar seperti yang dikemukakan diatas mengakibatkan factor-faktor produksi bebas bergerak dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, seperti bahan baku dan factor-faktor produksi lainnya.

o   Para pembeli dan panjual memiliki informasi yang sempurna

Para penjual dan pembeli mempunyai informasi yang lengkap mengenai kondisi pasar, struktur harga, dan kualitas barang yang sesungguhnya.keterangan ini mudah didapat dan tidak memerlukan biaya yang besar (costless).

Untuk lebih memahami bagaimana posisi suatu pengusaha / koperasi dalam struktur pasar persaingan sempurna, perlu digambarkan kurva permintaan terhadap produk pengusaha / koperasi tersebut.

Rumusan struktur pasr dapat disimpulkan sebagai berikut :

§  Total penerimaan koperasi hanya ditentukan oleh jumlah produk yang dijual, karena harga adalah konstan

§  Harga pasar tidak dapat dikendalikan oleh koperasi ataupun pengusaha lain secara perorangan.

§  Perubahan harga pasar hanya terjadi karena adanya perubahan pada kurva permintaan pasar ataupun pada kurva penawaran pasar ataupun karena perubahan keduanya.

Oleh sebab itu, persaingan “harga” tidak cocok diterapkan oleh para pelaku bisnis termasuk koperasi di pasar bersaing sempurna. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar maka koperasi harus mampu bersaing dalam hal “biaya”. Menurut konsepsi koperasi biaya produksi akan dapat diminimumkan berdasarkan skala ekonomi (economies of scale) baik sebagai koperasi produsen maupun konsumen.

 

 Koperasi Dalam Pasar Monopoli

 

Pasar monopoli adalah bentuk dari organisasi pasar dimana hanya ada satu perusahaan atau penjual suatu produk di pasar yang bersangkutan. Adapun cirri-cirinya adalah sebagai berikut :

Perusahaan penjual atau yang menghasilkan produk hanya satu

Tidak ada produk substitusinya artinya tidak dapat digantikan penggunaannya oleh produk lain.

Konsumen produk yang monopoli adalah banyak sehingga yang bersaing dalam pasar produk tersebut adalah konsumen, sedangkan pengusahanya bebas dari persaingan

Memasuki industry yang menghasilkan produk monopoli—baik secara legal maupun alamiah—adalah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin

Dari sudut cangkupan monopoli ada yang bersifat local, regional, dan nasional. Misalnya yang bersifat local KUD sebagai penyalur tunggal Kredit Usaha Tani (KUT) dan pupuk. Dan yang bersifat regional (kabupaten & propinsi) dapat dilihat dalam penyediaan air minum bersih dimana dimonopoli oleh perusahaan daerah air minum (PDAM). Sedangkan yang bersifat nasional adalah monopoli di bidang pelayanan pos, telepon, telegram, dan listrik.

Berdasarkan cirri-ciri tersebut diatas, nampaknya agak sulit bagi koperasi untuk menjadi pelaku monopoli di masa yang akan datang baik dalam cakupan local, regional, dan nasional. Dengan titik pandangan dari prospek bisnis di masa yang akan datang, struktur pasar monopoli tidak akan member banyak harapan bagi koperasi. Selain adanya tuntutan lingkungan untuk menghapus yang bersifat monopoli, pasar yang dihadapi akan semakin terbuka untuk persaingan.

 

Koperasi Dalam Pasar Persaingan Monpolistik

 

Pasar persaingan monopolistic dapat diartikan sebagai pasar monopoli yang bersaing. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa pasar suatu produk dikatakan berada dalam keadaan persaingan monopolistic apabila dalam pasar tersebut terdapat cirri-ciri persaingan dan cirri monopoli. Hal ini disebabkan produk-produk yang dijual di pasar tidaklah homogen, tetapi masing-masing mempunyai daya substitusi satu sama lainnya.

Pasar persaingan monopolistic adalah bentuk dari organisasi pasar yang mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :

v  Banyak penjual atau pengusaha dari suatu produk yang beragam. Misalnya produk rokok diproduksi oleh banyak pengusaha yang satu sama lain bersaing secara tidak sempurna.

v  Produk yang dihasilkan tidak homogen (bandingkan dengan persyaratan produk pada pasar persaingan sempurna).

v  Ada produk substitusinya, artinya dapat digantikan penggunaanya secara sempurna oleh produk lain (bandingkan dengan produk yang monopoli)

v  Keluar atau masuk ke industry relative mudah

v  Harga produk tidak sama di semua pasar, tetapi berbeda-beda sesuai dengan keinginan penjualnya.

v  Pengusaha dan kosumen produk tertentu sama-sama bersaing, tetapi persaingan tersebut tidak sempurna karena produk yang dihasilkan tidak sama dalam banyak hal. Produk pengusaha yang mana yang akan menduduki tempat monopolistic, ditentukan oleh konsumen produk tersebut dan bukan oleh pengusahanya.

Sangat sulit menggambarkan permintaan pasar produk suatu industry dengan struktur pasar monopolistic, Karena produk dan harga satuannya tidak homogeny. Misalnya, produk kopi bubuk. Produk koperasi yang tidak homogen ini ditawarkan di pasaran dengan berbagai bentuk (ada yang dikemas dalam plastic, dalam bentuk kaleng, dalam karton dan sebagainya) yang harga penjualannya berbeda.

 

 

Koperasi Dalam Persaingan Pasar Oligopoli

 

Oligopoli adalah struktur pasar dimana hanya ada beberapa perusahaan (penjual) yang menguasai pasar, baik secara independen (sendiri-sendiri) maupun secara diam-diam bekerjasama. Oleh karena itu perusahaan dalam pasar hanya sedikit, maka akan selalu ada rintangan bagi perusahaan (penjual) baru untuk memasuki pasar. Di samping itu setiap keputusan  harga yang diambil oleh suatu perusahaan (penjual) harus dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam pasar. Dengan kata lain, reaksi penting dalam keputusan harga dan output adalah paling penting dalam model oligopoli.

Dewasa ini banyak koperasi di pasar-pasar lokal yang telah berintegrasi vertikal atau pasar-pasar yang lebih besar dimana perusahaan-perusahaan yang telah mapan masih sangat terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi telah berada di struktur pasar oligopoli, yaitu struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa penjual (perusahaan) yang menyebabkan kegiatan penjual (perusahaan) yang satu mempunyai peranan penting bagi penjual (perusahaan) yang lain. Integrasi vertikal yang dilaksanakan oleh perusahaan koperasi atau perusahaan-perusahaan lainnya di samping sebagai upaya peningkatan efisiensi perusahaan, juga untuk menghadiri persaingan yang lebih ketat antar penjual.

Persaingan diantara beberapa penjual (perusahaan) akan berbeda dengan persaingan diantara banyak penjual (persaingan sempurna dan persaingan monopolistik), sebab keterbatasan jumlah penjual akan mengakibatkan saling ketergantungan antara penjual satu dengan penjual lainnya, sehingga setiap keputusan dari masing-masing penjual akan mempunyai dampak signifikan (nyata) pada perusahaan lain. Jadi perilaku setiap penjual sangat tergantung dari keputusan-keputusan penjual lainnya.

Dalam pasar persaingan sempurna, suatu perusahaan tidak akan memperhitungkan aksi perusahaan lainnya sehingga interaksi yang strategis dikalangan mereka jelas tidak ada. Dalam hal ini tidak ada satu penjual pun yang merupakan ancaman bagi penjual lainnya. Tetapi di pasar oligopoli yang dicirikan oleh sidikitnya jumlah perusahaan (penjual), masing-masing oligopolis akan merumuskan kebijakannya dengan melihat efek kebijakan penjual lainnya. Dalam kondisi seperti ini berbagai akibat mungkin akan terjadi, tergantung pada derajat ke arah mana si oligopolis bertindak, baik sebagai saingan maupun sebagai rekan kerjasama. Oleh karena itu, konsep memaksimumkan, dalam arti “memiliki suatu hasil terbaik” sangat sulit diterapkan oleh masing-masing penjual karena dihadapkan pada ketidakpastian.

Suatu koperasi dapat menciptakan persaingan harga aktif dalam pasar oligopoli (harga lebih rendah daripada harga pesaingnya). Harga sedikit demi sedikit dikurangi dari harga pesaingnya. Karena adanya saling ketergantungan yang tinggi antar perusahaan (penjual), koperasi dapat menghancurkan para pesaingnya dan mengakibatkan terjadinya penurunan keuntungan mereka. Reaksi yang akan timbul dari para pesaing atas kerugian tersebut akan sulit diramalkan. Maka ada kemungkinan terjadi perang harga, dan terjadi saling meghancurkan dengan menetapkan harga yang lebih rendah (predatory pricing).

Dengan kebijakan harga yang lebih aktif, koperasi menciptakan rangsangan-rangsangan yang lebih kuat bagi para pesaingnya dalam mengurangi kesempatan masuknya koperasi baru. Jika koperasi berproduksi dengan kemampuan yang lebih rendah (koperasi dengan biaya yang lebih tinggi daripada pesaingnya), maka para pesaing dapat dengan mudah menyingkirkan koperasi keluar pasar dan menjadikan koperasi tergantung bantuan dari luar (bantuan pemerintah) untuk tetap hidup (survive).

Dengan demikian apakah para pesaing oligopolistik akan memulai perang harga untuk menyingkirkan koperasi. Hal ini menurut Hendar dan Kusnadi (1999) akan sangat tergantung pada faktor-faktor :

1.      Perbedaan kenggulan biaya (cost advantages) dari koperasi. Koperasi yang mempunyai rata-rata lebih rendah daripada para pesaingnya akan susah untuk disingkirkan dari persaingan dengan kebijakan harga yang lebih aktif. Sebaliknya koperasi yang mempunyai biaya rata-rata lebih besar daripada para pesaingnya akan mudah disingkirkan dengan kebijakan harga aktif.

2.      Posisi likuiditas dari para pelaku kegiatan ekonomi. Untuk menyingkirkan koperasi diperlukan dana cair yang cukup besar guna membiayai kemungkinan kerugian yang diderita akibat penetapan harga yang lebih ekstern (harga predator). Bila dana tersebut tidak mencukupi, maka para pelaku ekonomi tidak akan mudah untuk menyingkirkan koperasi.

3.      Keinginan para anggota untuk membiayai kerugian yang mungkin timbul (tingkat loyalitas anggota). Sebagai dampak dari kebijakan harga aktif para pesaing koperasi adalah kerugian yang akan diderita koperasi. Bila anggota mampu membiayai berbagai kerugian yang ditimbulkan, akan susah bagi pesaing untuk menyingkirkan koperasi.

Dari ketiga hal tersebut yang paling penting adalah kenggulan atau kelemahan dalam hal biaya. Pada umumnya disinilah kelemahan koperasi karena modalnya kecil. sehingga tidak mampu berproduksi secara masal. Karena tidak bisa membuat produk masal, maka produknya menjadi produk biaya tinggi.

 

LAPORAN KEUANGAN KOPERASI

 

Laporan keuangan koperasi meliputi Neraca, Perhitungan Hasil Usaha. Laporan Arus Kas, Laporan Promosi Ekonomi Anggota, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

a.  Neraca

Neraca menyajikan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan ekuitas koperasi pada waktu tertentu.

b. Perhitungan Hasil Usaha (PHU)

1) Perhitungan hasil usaha memuat hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan anggota.

2) Perhitungan hasil usaha menyajikan informasi mengenai pendapatan dan eban-beban usaha dan beban perkoperasian selama periode tertentu. Perhitungan hasil usaha menyajiakan hasil akhir yang disebut SHU. SHU yang diperoleh mencakup hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan non anggota. Istilah perhitungan hasil usaha digunakan mengingat manfaat dari usaha koperasi tidak semata-mata diukur dari SHU atau laba tetapi lebih ditentukan pada manfaat bagi anggota.

c.  Laporan Arus Kas

 

Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai perubahan kas yang meliputi saldo awal kas, umber penerimaan kas, pengeluaran kas dan saldo akhir kas pada periode tertentu.

 

d. Laporan Promosi Ekonomi Anggota

 

Laporan Promosi Ekonomi Anggota adalah laporan yang memperlihatkan manfaat ekonomi yang diperoleh anggota koperasi selama satu tahun.

 

e. Catatan atas Laporan Keuangan

 

Catatan atas laporan keuangan menyajikan pengungkapan (disclosures) yang memuat:

 

a). Perlakuan akuntansi antara lain mengenai:

 

b) Pengungkapan informasi lain.

 

 

 

Dari beberapa bentuk jenis laporan Keuangan, saya kira kita semua tidak merasa asing, kecuali pada Laporan Promosi Ekonomi Anggota

 

Tujuan Koperasi yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan anggota . Untuk menggambarkan secara kuantitatif  atas manfaat keberadaan Koperasi terhadap anggotanya, maka muncul lah salah satu bentuk Laporan Keuangan yang tidak dimiliki oleh bentuk Badan Hukum yang lain, yaitu : Laporan Promosi Ekonomi Anggota.

 

Laporan Promosi Ekonomi Anggota mencakup 4 unsur, yaitu:

 

a. Manfaat ekonomi dari pembelian barang atau pengadaan jasa bersama.

 

b. Manfaat ekonomi dari pemasaran dan pengolahan  bersama.

 

c. Manfaat ekonomi dari simpan pinjam lewat koperasi.

 

d. Manfaat ekonomi dalam bentuk pembagian SHU.

 

Walaupun SAK yang mengatur tentang Akuntansi Perkoperasian sudah ada sejak tahun 1998, maka tidak semua koperasi  menyusun Laporan Ekonomi Promosi Anggota .

 

Agar dapat memberi gambaran kepada mahasisa, ataupun pengelola koperasi, maka berikut ini saya sajikan bentuk Laporan Ekonomi Promosi Anggota pada Koperasi Konsumen ataupun Koperasi Produsen.

 

http://ahim.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9895/BAB+5.+SHU.ppt

Koperasi, Teori dan praktik. SITIO ARIFIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s